Setelah banyak kata habis terujar,kau menghilang. Lagi. Aku seperti menjelma menjadi kertas,yang selalu menjadi tempat yang harus mengertikan apa yang kau mau. Aku tahu,tak seburuk itu kau padaku. Hanya kertas itu saja yang diam dan terus menerka apa yang kau pikirkan. Ada kalanya kau memang menuliskannya,tetapi sering kali kau menyembunyikannya. Dengan menghilang. Apa itu keahlianmu? Kertas itu mengharapkanmu untuk menuliskan apa masalahmu,setidaknya kau mengatakannya walaupun hanya sedikit. Dan setidaknya pula kertas itu tahu. Apa bagimu itu masalah? Jika iya, biarkan saja kertas tetap kosong seperti baru.

Part 3! No filter 😄

"But silence it’s not that I want either." -Yuna,Colors

Jika kamu teh dan aku madu,lalu pemanis lainnya yaitu gula adalah percakapan kita.
-Alvia

"Ada satu hal yang kuharap kamu mengerti," tutur Tamaru. "Kami melindungimu sebisa mungkin. Tapi seandainya timbul keadaan darurat, apa pun keadaan itu, barangkali kamu harus bertindak sendiri. Walaupun aku datang dengan berlari secepat mungkin, bisa juga terlambat. Atau tergantung situasinya, mungkin aku tidak bisa datang. Misalnya, kalau diperkirakan tidak baik kami berhubungan denganmu."
(1Q84, Haruki Murakami.)

This morning. (part 2) 💓🍃

This morning. ⛅🌴

Seperti saling menerka. Tidak mengerti satu sama lain. Ku kira,belum. Memang belum. Tak dapat dengan cepat dapat aku katakan tidak, karena esok siapa tahu.
-Alvia